We Are at The Same Social Level Part 4

strak

Cast :

  • Choi Sooyoung
  • Choi Siwon
  • Choi Minho
  • Choi Sulli

Sooyoung pov

Saat ini aku telah benar-benar resmi menjadi istri pewaris Hyundai Group ini. Dia tampan, tidak hanya tampan… tapi sangat tampan. Dia juga tidak sedingin yang ditunjukannya kepada orang lain. Dia bahkan sangat hangat. Aku beruntung memilikinya. Siwon oppa sudah mulai bekerja di perusahaan appanya. Dia menjabat sebagai direktur. Di korea saat ini dialah orang pertama yang menjadi direktur di usia muda. Benar-benar membanggakan. Aku masih sama, yaitu dengan status kuliah ku. Sekarang aku menjadi istri dan mahasiswa sekaligus. Kami juga tidak memakai jasa layanan pembantu karena aku ingin melayani suamiku. Umma dan omonim telah menyarankanku memiliki pembantu, tapi aku menolak mentah-mentah. Umma dan omonim sangat sering mengunjungi apartment kami dan setiap hari selalu memberikan warning kepadaku dan Siwon Oppa untuk memberikan mereka cucu secepatnya.

Saat dimeja makan.

“Oppa, aku berangkat” Kataku pamit pada suamiku.

“Ne, hati-hati. Apa kau yakin tidak aku antar?” Tanya Siwon.

“Ani, aku bahkan sudah menyetir dari SMA, tenang saja Oppa” Kataku meyakinkannya.

“Oh ne, ayo kita sama-sama ke parkiran” Dan saat berpisah dia mencium keningku. Aku bahagia sekali saat ini.

@campus

“Yul.. anyeong..!” sapaku.

“Oh ne, nyonya Choi… bagaimana malam pertamamu?” Tanyanya antusias.

“Hahhaha, seperti biasa. Kau ini.. apa tidak ada pertanyaan lain setelah seminggu aku libur menikah?” Tanyaku.

“Ani.. hahahhaa, sudahlah, aku hanya bercanda” Lanjut Yuri.

“Sooyoung ah, kau jangan lupa. Satu bulan lagi pernikahanku. Kau harus datang” Katanya.

“Oh, tentu saja. Kau tenang saja” Kataku.

## satu bulan kemdian

“Oppa, dua hari lagi kita akan ke Jepang menghadiri pernikahan Yuri dan Changmin Oppa” Kataku kepada Siwon Oppa.

“Oh, ne? 2 hari lagi?” tanyanya shock.

“Wae? Kau ada pekerjaan kah? Aku bisa batalkan tiketmu dan aku berangkat sendiri, atau bersama Sulli saja” Kataku.

“Ani, gwenchana. Aku akan menemanimu” Katanya.

“Gomawo” kataku dan mencium pipinya sekilas.

Pagi ini aku berangkat ke Jepang menghadiri pernikahan sahabatku Yuri, sebenarnya aku merasakan badanku aneh. Entahlah, hanya perasaanku saja mungkin, akhir-akhir ini aku juga sibuk menemani Yuri mempersiapkan pernikahannya dan aku berpikiran aku kelelahan. Kepalaku pusing, tapi ini tidak boleh aku biarkan. Aku langsung meminum susu untuk menutrisi tubuhku yang drop. Aku memasukkan beberapa bajuku dan baju Siwon Oppa ke dalam koper. Kami akan berangkat kebandara jam 9. Pesawat kami akan take off jam 9.30. Siwon Oppa benar-benar suami idaman, dia rela libur dan menemaniku saat ini. Aku terharu.

@japan

“Yul… chukae” Kataku saat pesta pernikahan yuri.

“Gomawoyo yongie ah, aku bahagia dan ingin menangis bahagia saat ini” Katanya.

“Kau ingin maskaramu luntur?” Tanyaku.

“Changmin oppa, aku serahkan sahabatku dan kau harus menjaganya” Pesanku pada changmin oppa.

“Baiklah, kami kembali ke hotel duluan” Pamit siwon oppa.

Saat ini, kami akan berada di jepang 3 hari, sekalian untuk bulan madu yang tertunda karena jadwal kuliahku dempet saat selesai menikah dulu.

“Oppa, bagaimana kalu kita keliling tokyo?” Kataku.

“Ne, boleh.. aku akan menelfon cabang perusahaan appaku yang ada disini untuk menyiapkan mobil” Kata siwon oppa, benar saja.. perusahaannya adalah perusahaan mobil, jadi dengan mudah dia bisa mengambil mobil apapun.

Saat bangun pagi aku kembali merasakan pusing, tapi aku hanya diam dan tidak mau acara liburan pendekku dan suamiku ini terganggu hanya karena demam ringanku.

Saat ini aku semakin ingin dekat dengan siwon oppa, aku ingin sekali dia disampingku setiap saat. Bahkan saat siwon oppa mengerjakan pekerjaannya di laptop pun aku harus di sampingnya. Kadang dia kesal karena risih aku perhatikan terus. Tapi aku tidak peduli. Aku selalu merengek mengajaknya keluar dan pergi ketama bermain di jepang ini, dia sebenarnya sudah memohon untuk tidak pergi karena kelelahan, tapi aku ancam dan paksa.

Saat balik ke korea pagi ini, aku tertidur dipesawat, entahlah,.. badanku semakin drop. Aku rasa karena terlalu semangat liburan dijepang.

Siwon pov

Saat ini aku di pesawat balik ke korea, Sooyoung tertidur. Sepertinya dia kelelahan. Aku mengerti, ini pasti efek bermain yang overdosis di taman bermain di jepang. Entahlah, dia benar-benar menyukai taman bermain sepertinya. Bahkan sampai mengancam tidak akan memasakkanku sarapan selama seminggu jika tidak aku temani. Benar-benar childish.

Saat balik ke apartment, sooyoung kembali melanjutkan tidurnya, dia memang suka tidur akhir-akhir ini dan aku langsung menuju kantor, pekerjaanku menumpuk saat ini akibat libur 3 hariku bersama sooyoung di jepang.

Malam saat aku kembali, sooyoung sudah tidur dan hanya meninggalkan note dikulkas. “oppa, kau makanlah, sudah aku siapkan, aku harus tidur cepat karena besok kuliah pagi”.

“Oppa, iroena,..!” panggil sooyoung dan saat aku membuka mataku, aku melihat dia sudah rapi dengan pakaian akan pergi kekampus.

“Ayo bangunlah.. antarkan aku” Kata sooyoung manja.

“Ne? tidak biasanya kau manja seperti ini” Kataku dan langsung kekamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap kekantor dan mengantar sooyoung.

“Oppa, ayo suapkan aku” Pinta sooyoung saat kami makan pagi ini.

“Ne” kataku dengan senang hati.

“Kenapa dia begitu manja akhir-akhir ini, sangat aneh.. ah, sudahlah,. Gwenchana, siapa lagi yang memanjakannya. Tentu saja aku “suaminya”. Batinku.

Saat tiba dikampus.

“Oppa, kau bahkan jarang mencium keningku saat akan berangkat kekantor” Keluh sooyoung.

“Hahhaa, ne chagiii… mianhaeyo” Kataku sambil mencium keningnya.

“Kau kuliahlah, nanti aku jemput lagi” Kataku.

Sooyoung memang tambah manja belakangan ini dan childish. Bahkan juga egois. Saat di jepang dia selalu mengancamku. Dia selalu memperhatikan aku, aku kesal karena aku risih ditatap seperti itu. Aku sedikit shock dengan mulai pudarnya kemandirian sooyoung ini.

Seminggu sudah sooyoung semakin manja kepadaku, Saat malam aku dipaksa menemaninya menonton drama, padahal aku baru pulang lembur dan akan kekantor pagi pada esok harinya. aku agak risih karena saat dikantorpun dia sering menelfonku dan menyuruhku pulang hanya makan siang dengannya. Jarak kantor dan apartment ku terbilang jauh dan aku agak susah jika harus bolak balik seperti ini setiap hari. Tapi saat aku menjelaskan sooyoung hanya berargument “ ne, kau berubah oppa, tiga bulan pernikahan ini tapi kau sudah tidak mencintaiku”. Lalu aku harus menjawab apa? Aku bahkan semakin memcintainya, tapi aku juga ada pekerjaan. Jadi aku hanya bersabar dan berusaha semaksimal mungkin mengalah kepadanya.

Author pov

Saat ini siwon selalu mengantar sooyoung kekampus setiap harinya dan menjemputnya pada jam makan siang. Ini semua aturan sooyoung, karena dia mengatakan dia sering kelelahan saat menyetir. Siwon memakluminya dan pada dasarnya siwon memang menyayangi istrinya itu, dia hanya mengalah dan mengorbankan waktu makan siangnya untuk menjadi sopir pribadi sooyoung. Ini sudah terjadi 2 minggu. Sooyoung selalu makan siang dikantor siwon dan bersikeras untuk menunggui suaminya itu bekerja.

“Soo, kau pulang lah.. bukankah kau kelelahan? Lebih baik tidur dirumah” Kata siwon.

“Aniyo, aku ingin menemani oppa. Aku ingin melihat oppa bekerja” Kata sooyoung keras kepala.

“Baiklah” Pasrah siwon.

Saat ini pun sooyoung jarang memasak, dia sudah mulai cuek kepada siwon dan malas melakukan aktifitas apapun kecuali mengganggu siwon bekerja. Siwon awalnya maklum, tapi…

Sooyoung pov

Aish, aku sangat bosan dirumah. Lebih baik aku ketaman belakang apatment.

Saat ditaman, aku iri melihat orang pacaran. Aku putuskan menelfon Siwon Oppa dan jika aku meminta dia kesini, dia akan menolak dengan alasan pekerjaan. Sungguh workaholic. Asssa… aku akan mengerjainya saja mengatakan aku sakit dan pusing serta tidak bisa berjalan pulang. Dan aku putuskan menghubunginya.

Siwon pov

Saat aku bekerja, ponselku berbunyi dan itu panggilan dari sooyoung.

“Ne.. gwenchanayo?” Tanyaku panik.

“Kau dimana? Tunggu aku, aku jemput. Jangan kemana-mana” Perintahku.

Lalu aku membatalkan meeting dengan perusahaan jepang karena cemas dengan istriku. Langsung saja aku berlari menuju parkiran dan mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh.

Saat ditaman, dia hanya tersenyum dan langsung memelukku. Apa dia mengerjaiku? Bahkan dia bisa berlari memelukku.

“Ye.. oppa, kau tertipu” Katanya.

“Mwo? Kau mengerjaiku? Aish, kau keterlaluan” Kataku sambil menarik tangannya menuju mobil.

“Besok kau jangan seperti ini lagi ya, jantungku hampir copot” Kataku.

“Ne, mianhae oppa, aku hanya tiba-tiba ingin bertemu denganmu” Katanya.. bagaimana aku bisa marah.

Besoknya…

Sooyoung merengek meminta ikut kekantor denganku, dia bahkan rela bolos kuliah. Aku tidak mau membawanya karena aku akan lembur dan ada meeting dengan perusahaan jepang yang kemaren aku cancel tiba-tiba.

“Kau dirumah saja ne? Oppa akan lembur dan sibuk sekali” Kataku membujuknya.

“Ani.. aku ingin ikut, dan aku tidak akan merepotkanmu nantinya. Aku janji” Katanya.

“Ne.. baiklah” kataku pasrah.

Saat dikantor pun sooyoung hanya diam dan terus memperhatikan aku.

“Chagiyaa, aku risih.. jangan tatap seperti itu” Kataku.

“Hahhaa, baiklah oppa” Katanya.

Lalu sekretarisku masuk dan memberitahu rapat akan dimulai 15 menit lagi.

Saat sekretarisku keluar, sooyoung mulai memegang tanganku. “Oppa, ani.. kau tidak boleh rapat” Katanya.

“Ne?? Waeyo? Dia klien perusahaan” Kataku.

“Ani, dia yeoja.. kau tidak boleh rapat dengannya“ Katanya sambil terus memegang lenganku kuat.

“Aish.. kau ini, jangan bercanda. Kami hanya rapat biasa” Kataku.

“Oppa, aku katakan tidak boleh” Katanya dengan nada marah.

“Kau kenapa? Kataku mulai emosi. Kau kekanakan sekali” Teriakku.

Dia hanya diam.

Aku akan memaklumi jika kau manja denganku, tapi jika kau kekanakan dan berpikiran konyol seperti ini maka aku tidak akan peduli kau ijinkan atau tidak. Ini perusahaan, kita harus profesional. Kau pulanglah, aku tidak ingin kita bertengkar. Kataku lagi dan keluar menuju ruang rapat.

Malam ini aku jadi malas pulang cepat, entahlah.. aku agak malas bertemu sooyoung karena keegoisannya tadi siang. Tapi bagaimanapun aku juga harus pulang, aku tidak ingin semakin bertengkar dengannya.

“Kau pulang?” Tanya nya saat aku masih membuka sepatu ku.

“Ne, aku lapar. Kau memasak apa?” Tanyaku mulai mencair dan menghilangkan kemarahanku tadi siang.

“Tidak ada, aku hanya membeli makanan cepat saji, aku banyak tugas, dan tidak sempat memasak” Katanya.

“Oh gwenchana” Kataku dan langsung makan. Saat makan ponselku berbunyi dan itu dari sulli.

“Oh sulli ah, waeyo?” Tanyaku.

“Ani, aku hanya kangen oppa” Kata sulli.

Lalu sooyoung mendekat dan aku meng-loudspeaker kan panggilan ini.

“Oppa, aku ingin kita makan siang bersama besok. Berdua saja, seperti kau masih lajang dulu” Kata sulli lagi.

“Ne, baiklah..” dan saat aku akan mengatakan jam aku dan sulli bertemu, panggilan itu terputus. Sooyoung yang memutuskan panggilan itu. Aku marah..

“Apa-apaan kau? Itu sulli, kau jangan membuat sulli marah padaku” Kataku mulai geram.

“Ne, kau ingin makan berdua dengannya. Aku tidak suka suamiku keluar dengan wanita lain” Katanya.

“Apa kau gila?? Sulli adik kandungku, bukan wanita lain” Jelasku.

“Aku tidak suka” Teriaknya.

“Terserah kau, aku keluar. Aku tidur di rumah orangtuaku saja” Kataku.

“Ani, tidak boleh. kau ingin bertemu sulli kan?” Katanya.

“Kau mau apa? Jangan rusak hubunganku dengan adikku. Aku tidak suka itu. Dan aku lebih mengenal adikku. Kau hanya istriku, wanita yang kukenal beberapa bulan ini” Kataku dengan nada kasar.

Aku kesal dan sangat marah, dia begitu egois.. bahkan dengan sulli. Aku tidak bisa terima ini.

Dan akupun mulai berjalan keluar, aku rasa sooyoung berlari mengikutiku sambil menangis. Saat aku berbalik, dia hanya diam.

“Kau masuklah, aku ingin  menenangkan pikiranku. Aku muak melihatmu!!!” Kataku sambil berteriak.

Sooyoung kaget dan tetap diam. Pintu lift terbuka, saat aku akan masuk, dia menarik paksa tanganku. Aku benar-benar kesal dan aku hempaskan tangannya. Lalu saat aku melangkahkan kaki masuk lift. Bugh….. sooyoung terjatuh dan pingsan.

Aku kaget dan langsung menggendongnya kedalam apartment.

Omo, tubuhnya panas sekali. Aku langsung mengambil es batu dan mengompresnya. Dia menggumam tidak jelas. Aku sangat takut. Apa ini karena pertengkaran kami tadi?

Malam ini aku tidak tidur karena mengompres sooyoung. Saat dia sadar dan bangun, aku menyuruhnya memakan roti dan meminum obat, dia mencoba memakannya tapi tidak berhasil, dia muntah. Saat pagi, dia bangun dan kembali muntah, dia juga mengeluh kepalanya sakit.

Wuek.. wuek… sooyoung muntah dan aku memijit pundaknya

“Kau pergilah, aku tidak ingin bertemu denganmu” Katanya sambil menepis tanganku.

“Ani, kau masih sakit. Ayo kerumah sakit” Kataku.

“Ani, tidak perlu” Katanya dingin, sepertinya dia marah akibat pertengkaran kami semalam.

“Aniyo.. sooyoung ah, kau jangan seperti anak-anak” Kataku dengan nada lembut.

“Ayo kerumah sakit” Paksaku dan sooyoung kembali menepis tanganku.

“Ani, aku benci kau choi siwon..” teriaknya.

“Terserah kau, aku heran… kau terlalu banyak berubah akhir-akhir ini” Teriakku.

Sooyoung bangkit dan berjalan menuju lemari. Baiklah, kita berpisah saja kalau begitu. Katanya.

“Aku tidak peduli” Kataku dingin                        .

Dan saat dia sedang memasukkan bajunya ke koper, dia memegang kepala dan perutnya.

“Appo..” lirih sooyoung, tapi masih bisa kudengar.

Aku melihat kearahnya dan tiba-tiba dia pingsan lagi. Aku langsung menggendongnya dan membawanya kerumah sakit. Aku merasa aneh dengan demamnya ini. Kenapa dia sampai pingsan dua kali.?

Saat tiba dirumah sakit, dokter langsung menangangi sooyoung, aku hanya menunggunya diluar.

Setelah beberapa menit, dokter itupun keluar. “Apakah kau suaminya?” Tanya dokter itu kepadaku.

“Ne, saya suaminya” Kataku.

“Ikutlah keruanganku. Kita bicara didalam saja tuan choi” Lanjutnya.

Saat diruangannya.

“Baiklah tuan choi. Anda sepertinya sangat beruntung” katanya sambil tersenyum. “Selamat. Istri anda hamil.. 5minggu”.

“Mwo?” Aku shock.. kaget dan bahagia sekali. Aku akan segera menjadi appa. Benar-benar tidak sabar anakku lahir.

“Tapi, sepertinya nyonya choi sedang stress berat, tekanan darahnya terlalu rendah. Dan kondisi fisiknya sangat lemah. Aku takut jika tidak diantisipasi dari sekarang, maka akan berpengaruh kepada janinnya”.

Aku langsung terdiam, jangan-jangan karena pertengkaran kami. Aku merasa bersalah pada sooyoung, aku bicara kasar dan membentaknya.. aku kesal karena sikap manjanya dan bahkan aku tidak mengerti rasa cemburunya. padahal dia sedang mengandung anakku.

“Tuan, kehamilan pertama ini akan sangat merepotkan. Kau harus memaklumi itu, terkadang istrimu akan manja bahkan sangat manja dan cemburuan. Atau sangat cuek dan pemarah. Sebagai suami, kau harus bersabar dan cobalah mengalah. Jangan sampai ibu hamil stress. Itu bukan hanya membahayakan satu nyawa, tapi dua “anak dan ibu”. Kau ikuti saja permintaan nya, terkadang memang aneh, tapi itulah yang namanya ngidam. Aku akan memberikan vitamin untuk mengembalikan kondisi fisiknya, tapi yang terpenting kau sebagai suami harus menjaga perasaannya agar dia tidak stress” Kata dokter ini panjang lebar.

“Ne, gomawo uisa..” kataku.

“Dia masih pingsan, sebentar lagi akan sadar. Mungkin karena tekanan darahnya rendah dia jadi pusing dan pingsan karena tidak mampu menahan rasa sakit dikepala dan perutnya” Lanjutnya saat aku akan keluar dari ruangan ini.

Saat melihat sooyoung terbaring dengan tangan diinfus, nyaliku menciut. Aku merasa sangat bersalah kepadanya. Dia terbaring seperti ini karena aku yang tidak bisa menjaga perasaannya. Air mataku menumpuk dipelipis mataku saat melihat wajah pucat sooyoung. Aku suami yang bodoh, sungguh tidak pantas untuknya. Aku bahkan tidak tahu istriku hamil. Aku membentaknya dan bahkan hampir meninggalkannya saat dia cemburu dengan sulli.

“Sooyoung ah, kau bangunlah… mianhae..” kataku sambil mengelus rambutnya dengan lembut dan penuh sayang.

Aku menggenggam tangannya. Sooyoung ah, aku benar-benar minta maaf, jangan marah lagi. Kau sadarlah. Kataku lagi. Lalu, aku mengelus perutnya. Sooyoung ah, gomawo.. kau hamil anakku. Aku bahagia. Jeongmal gomawoyo.. kau bertahanlah anakku. Appa sangat menantikan kehadiranmu. Kataku pada perut sooyoung, tempat anakku akan hidup 9 bulan.

Aku merasakan tangan sooyoung yang aku genggam bergerak lemah. “Soo, kau sudah sadar?” Tanyaku.

Dia hanya diam dan masih berusaha membuka matanya. Dia melihat sekitar ruangan ini.

“Chagiyaa.. kau sudah bangun? Ini dirumah sakit” Kataku menjelaskan saat dia terlihat bingung dengan ruangan ini, dan dia masih diam.

“Kau haus?” Tanyaku sambil menyerahkan air dan berniat membantunya minum.

“Ani. Tidak perlu” Katanya dingin.

“Apa yang sakit?” Tanyaku lagi saat dia memegang kepala dan perutnya.

“Kau diam saja siwon shii” Katanya dingin tanpa melihatku.

Aku terdiam, dia bicara formal lagi kepadaku. “Apa dia benar-benar marah?” Batinku.

“Kenapa bicara seperti itu kepadaku? Kau masih marah? Aku minta maaf, aku mohon maafkan aku” Pintaku.

“Aku benci kau. Aku benar-benar membencimu choi siwon!! Kau keluarlah, aku ingin sendiri” Teriaknya.

“Sooyoung ah, ani.. aku tidak akan keluar, aku ingin menemanimu”.

Dia terlihat marah, dan menatapku tajam. “Baiklah, kalau kau tidak keluar aku yang akan keluar” Ancamnya sambil mencabut jarum infus ditangan nya.

“Ani.. chagiya, jangan.. kau butuh infus untuk menjaga kondisimu” Kataku shock melihat tangannya mulai berdarah akibat cabutan infus itu.

Saat dia berdiri dengan gegabah, aku langsung memeluknya. “Mianhae, aku yang bersalah. Mianhae.. aku mohon.. jangan seperti ini. Jangan bergerak terlalu aktif, kasihan anak kita” Kataku sambil memeluknya erat. Dia diam dan mencoba melepas pelukanku.

“Mwo? Anak??” Tanyanya dengan wajah shock.

“Ne, kau hamil anakku. 5 minggu. Gomawo..” kataku sambil tersenyum lebar. Sooyoung masih menganga. Lalu aku menuntunya ketempat tidur.

“Kau tidurlah, pasangkan dulu infusnya. Aku akan memanggil perawat” Kataku lembut. Setelah infus itu terpasang, sooyoung sudah mulai tenang dan aku duduk disampingnya.

“Gomawo, kau hamil. Kataku lagi sambil mengelus kepalanya. Chukae, kau akan  menjadi seorang ibu” Kataku sambil tersenyum.

Dia menepis tanganku. “Jangan sentuh aku siwon shii” Katanya dingin.

“Wae? Kau marah padaku? Mianhae, jangan marah lagi” Kataku mencoba membujuknya.

“Bukankah kau akan meninggalkanku? Silahkan saja. Kita memang tidak cocok lagi. Kau bahkan muak melihatku. Aku akan menghubungi minho untuk menemaniku. Kau pulanglah, bukankah kau ingin menenangkan pikiran dirumah orang tuamu? Gwenchana. Kau pergilah” Katanya.

“Ani.. aku minta maaf, aku tidak bisa.. aku tidak bisa berpisah denganmu” Kataku.

“Maafkan aku saat itu cemburu tidak jelas kepada sulli. Mianhae, aku memang egois dan mungkin ini yang membuat kita tidak cocok” Kata sooyoung lagi.

“Aku mengerti, tentu saja kau cemburu, itu bukan maumu, tapi kemauan anak kita. Aku minta maaf membentakmu saat itu” Kataku lagi sambil membelai tangannya.

“Kau pergilah.. aku ingin sendiri” kata sooyoung sambil menangis.

“Ani..andwe., jangan menangis lagi. Aku yang bersalah” Kataku saat melihatnya mulai menangis lebih keras. Ini pertama kalinya sooyoung menangis dan terlihat lemah dihadapanku.

“Mianhae.. jeongmal… “ lirihku ikut menangis sambil memeluk istriku tersayang ini.

Dia hanya diam dan tidak membalas pelukanku. Aku mengerti, sangat mengerti perasaannya. Bagaimana mungkin dia tidak marah padaku. Aku bahkan membentak dan menghempaskan tangannya kasar saat aku akan pergi kerumah orangtuaku karena dia cemburu dengan sulli. Aku bahkan mengatakan jika dia hanya wanita yang baru kukenal karena emosiku saat itu. Othokhe?? Aku benar-benar takut kehilangan sooyoung.

“Aku ingin tidur” Kata sooyoung tiba-tiba dan akupun melepas pelukanku.

“Ne, jaljayo..” kataku sambil mencium keningnya. Dia hanya diam dan menutup matanya.

Besok paginya.

Sooyoung kembali muntah-muntah tanpa henti, aku panik dan memanggil dokter. Dokter tersebut mengatakan jika ini memang gejala hamil muda, jadi harus lebih bersabar. Aku sungguh tidak tega dengan sooyoung yang semakin pucat.

“Sooyoung ah..” kataku pelan.

“Aku butuh ummaku dan minho” Katanya.

“Ne, aku akan menelfon omonim dan minho” Kataku cepat karena takut melihat sooyoung yang muntah terus.

Saat omonim dan minho datang, sooyoung lebih ceria. Minho selalu menggodanya. Aku bagaikan orang asing didepan pintu.

“Siwon ah, omonim ingin bicara” Kata umma sooyoung.

“Kalian kenapa?” Tanya mertuaku ini. Lalu aku menceritakan semuanya dengan jujur.

“Aigoo.. kalian ini, hahhaaa.. pasangan muda memang begitu menghadapi kehamilan pertama. Katanya pengertian. Kau bujuklah dia, aku tidak akan ikut campur. Kalian sudah dewasa dan akan menjadi orangtua” Lanjut mertuaku ini bijak.

“Ne. Gomawo omonim”.

“Sooyoung ah, umma pulang dulu. Kau harus menjaga cucuku. Ne? Makanlah teratur dan jangan stress. Jika kau bosan dirumah nanti. Hubungi umma. Oke?” Pamit omonim sambil menceramahi sooyoung.

“Hyung, aku titip noona dan keponakanku. Noona anyeong. Saranghae” Kata minho dan Sooyoung hanya mengangguk lemah.

Siang ini sooyoung bersikeras minta pulang, aku bisa berbuat apa. Aku takut jika tidak mengikuti  permintaannya. Aku takut dia stress dan muntah lagi. Saat dimobil kami saling diam. Aku takut banyak bicara. Entahlah.. aku takut jika salah bicara dan membuat sooyoung sedih. Aku tidak mau membuat istri dan anakku yang dikandungannya sedih.

Kami sampai di apartment, aku menuntun sooyoung masuk. Dia terlihat sangat tidak bersemangat. Tidak sooyoung yang ceria lagi.

“Kau tidurlah, aku akan membeli makanan untuk kita” Kataku sebelum keluar dan aku menyium keningnya.

“Sooyoung ah, ayo makan” Kataku sambil membawa bubur dan air putih untuk sooyoung.

“Ani, aku tidak lapar” Jawabnya cuek.

“Kau makanlah.. bagaimana anak kita? Dia butuh asupan gizi” Terangku sambil menyuapi sooyoung pelan karena takut dia muntah lagi.

Malam ini aku tidur di samping sooyoung, tapi aku hanya memandang wajah dan perutnya bergantian. Aku terkagum dengan istriku ini. Saat dia tertidur, aku hanya mengelus kepalanya. Hingga akhirnya akupun ikut tertidur.

“Sooyoung ah, aku kekantor.. kau mau ikut?” Tanyaku. Mengingat sooyoung selalu memintaku membawanya jika aku bekerja.

“Ani. Aku tidak mau merepotkanmu. Aku juga tidak mau kau muak melihatku lagi” Katanya yang membuat aku sedih mengingat sikapku padanya.

“Bagaimana aku direpotkan oleh istriku? Tidak.. aku sangat senang kau manja padaku. Jangan dingin dan cuek seperti ini lagi padaku. Aku tidak sanggup melihatmu mendiamkanku” Kataku.

“Ani, kau pergilah!”

“Jinjhayo? Kau tidak apa sendiri? Aku hanya akan mengambil laporan karyawanku. Aku akan bekerja dirumah untuk satu bulan ini. Aku mau menemanimu” Jelasku.

Sooyoung hanya diam dan aku pun mendekat dan mencium pipinya. “Anyeong.. appa pergi sebentar” Kataku sambil mengelus perut sooyoung.

Sooyoung pov

Aku sebenarnya juga tidak tahan mendiamkan siwon, entahlah.. hatiku selalu berkata jika aku sangat ingin dimanja olehnya. Apa ini permintaan anakku? Siwon bekerja dirumah saat ini. Sudah satu minggu dia bekerja dirumah. Aku bahkan tidak dibiarkan siwon untuk melakukan pekerjaan apapun. Aku masih sering muntah dan mual. Anehnya, rasa mualku akan hilang saat aku mencium aroma tubuh siwon.

“Sooyoung ah, kau tidak apa? Ayo minum dulu” Kata siwon oppa sambil menyerahkan segelas air padaku. Tiba-tiba aku muntah lagi. Dan entah keinginan dari mana, aku langsung memeluknya dan mencium aroma tubuhnya. Wangi… sangat lembut wangi tubuh namja ini. Mualku seketika hilang. Lama kami pada posisi seperti ini. Dia hanya mengelus kepalaku saat aku memeluknya.

Aku melepas pelukan kami, aku malu. Bukankah aku masih marah padanya.

“Gwenchana?” Tanya siwon cemas.

“Ne, mianhae aku memelukmu” Kataku malu.

“Aturan dari mana kau dilarang memeluk suamimu?” Tanyanya menggodaku.

“Ani, aku hanya..” kataku terputus.

“Kenapa?” Tanya siwon.

“Mualku hilang saat memelukmu tadi” Kataku jujur.

“Jinjha? Kau harus lebih sering memelukku kalau begitu” Ujarnya.

“Mianhae aku mendiamkanmu karena masalah pertengkaran kita waktu itu” Kataku menyesal. Aku memang butuh suamiku. Entahlah, naluri mengatakan kalau aku tidak bisa tanpa siwon.

“Aku yang salah.. aku yang seharusnya minta maaf. Sudahlah, kau jangan stress lagi. Aku tidak mau kau kenapa-napa” Kata siwon sambil mencium bibirku.

“Yongie.. kau tidak marah lagi kan padaku?” Tanyanya.

“Mmm…” jawabku sekenanya.

“Gomawo..” katanya.

“Buat apa?” Tanyaku.

“Karna kau hamil anakku, ani.. anak kita” Jawabnya.

“Oh ne..” kataku.

“Besok kita ketaman bermain, bagaimana?” Tanya siwon.

“Ne.. aku mau” Kataku.

“Aku harap kita tidak bertengkar lagi. Aku tidak mau kehilanganmu” Kata Siwon sambil memelukku.

~~tbc~~~~ ^_^

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Sooyoung pov

Saat ini aku telah benar-benar resmi menjadi istri pewaris Hyundai Group ini. Dia tampan, tidak hanya tampan… tapi sangat tampan. Dia juga tidak sedingin yang ditunjukannya kepada orang lain. Dia bahkan sangat hangat. Aku beruntung memilikinya. Siwon oppa sudah mulai bekerja di perusahaan appanya. Dia menjabat sebagai direktur. Di korea saat ini dialah orang pertama yang menjadi direktur di usia muda. Benar-benar membanggakan. Aku masih sama, yaitu dengan status kuliah ku. Sekarang aku menjadi istri dan mahasiswa sekaligus. Kami juga tidak memakai jasa layanan pembantu karena aku ingin melayani suamiku. Umma dan omonim telah menyarankanku memiliki pembantu, tapi aku menolak mentah-mentah. Umma dan omonim sangat sering mengunjungi apartment kami dan setiap hari selalu memberikan warning kepadaku dan Siwon Oppa untuk memberikan mereka cucu secepatnya.

Saat dimeja makan.

“Oppa, aku berangkat” Kataku pamit pada suamiku.

“Ne, hati-hati. Apa kau yakin tidak aku antar?” Tanya Siwon.

“Ani, aku bahkan sudah menyetir dari SMA, tenang saja Oppa” Kataku meyakinkannya.

“Oh ne, ayo kita sama-sama ke parkiran” Dan saat berpisah dia mencium keningku. Aku bahagia sekali saat ini.

@campus

“Yul.. anyeong..!” sapaku.

“Oh ne, nyonya Choi… bagaimana malam pertamamu?” Tanyanya antusias.

“Hahhaha, seperti biasa. Kau ini.. apa tidak ada pertanyaan lain setelah seminggu aku libur menikah?” Tanyaku.

“Ani.. hahahhaa, sudahlah, aku hanya bercanda” Lanjut Yuri.

“Sooyoung ah, kau jangan lupa. Satu bulan lagi pernikahanku. Kau harus datang” Katanya.

“Oh, tentu saja. Kau tenang saja” Kataku.

## satu bulan kemdian

“Oppa, dua hari lagi kita akan ke Jepang menghadiri pernikahan Yuri dan Changmin Oppa” Kataku kepada Siwon Oppa.

“Oh, ne? 2 hari lagi?” tanyanya shock.

“Wae? Kau ada pekerjaan kah? Aku bisa batalkan tiketmu dan aku berangkat sendiri, atau bersama Sulli saja” Kataku.

“Ani, gwenchana. Aku akan menemanimu” Katanya.

“Gomawo” kataku dan mencium pipinya sekilas.

Pagi ini aku berangkat ke Jepang menghadiri pernikahan sahabatku Yuri, sebenarnya aku merasakan badanku aneh. Entahlah, hanya perasaanku saja mungkin, akhir-akhir ini aku juga sibuk menemani Yuri mempersiapkan pernikahannya dan aku berpikiran aku kelelahan. Kepalaku pusing, tapi ini tidak boleh aku biarkan. Aku langsung meminum susu untuk menutrisi tubuhku yang drop. Aku memasukkan beberapa bajuku dan baju Siwon Oppa ke dalam koper. Kami akan berangkat kebandara jam 9. Pesawat kami akan take off jam 9.30. Siwon Oppa benar-benar suami idaman, dia rela libur dan menemaniku saat ini. Aku terharu.

@japan

“Yul… chukae” Kataku saat pesta pernikahan yuri.

“Gomawoyo yongie ah, aku bahagia dan ingin menangis bahagia saat ini” Katanya.

“Kau ingin maskaramu luntur?” Tanyaku.

“Changmin oppa, aku serahkan sahabatku dan kau harus menjaganya” Pesanku pada changmin oppa.

“Baiklah, kami kembali ke hotel duluan” Pamit siwon oppa.

Saat ini, kami akan berada di jepang 3 hari, sekalian untuk bulan madu yang tertunda karena jadwal kuliahku dempet saat selesai menikah dulu.

“Oppa, bagaimana kalu kita keliling tokyo?” Kataku.

“Ne, boleh.. aku akan menelfon cabang perusahaan appaku yang ada disini untuk menyiapkan mobil” Kata siwon oppa, benar saja.. perusahaannya adalah perusahaan mobil, jadi dengan mudah dia bisa mengambil mobil apapun.

Saat bangun pagi aku kembali merasakan pusing, tapi aku hanya diam dan tidak mau acara liburan pendekku dan suamiku ini terganggu hanya karena demam ringanku.

Saat ini aku semakin ingin dekat dengan siwon oppa, aku ingin sekali dia disampingku setiap saat. Bahkan saat siwon oppa mengerjakan pekerjaannya di laptop pun aku harus di sampingnya. Kadang dia kesal karena risih aku perhatikan terus. Tapi aku tidak peduli. Aku selalu merengek mengajaknya keluar dan pergi ketama bermain di jepang ini, dia sebenarnya sudah memohon untuk tidak pergi karena kelelahan, tapi aku ancam dan paksa.

Saat balik ke korea pagi ini, aku tertidur dipesawat, entahlah,.. badanku semakin drop. Aku rasa karena terlalu semangat liburan dijepang.

Siwon pov

Saat ini aku di pesawat balik ke korea, Sooyoung tertidur. Sepertinya dia kelelahan. Aku mengerti, ini pasti efek bermain yang overdosis di taman bermain di jepang. Entahlah, dia benar-benar menyukai taman bermain sepertinya. Bahkan sampai mengancam tidak akan memasakkanku sarapan selama seminggu jika tidak aku temani. Benar-benar childish.

Saat balik ke apartment, sooyoung kembali melanjutkan tidurnya, dia memang suka tidur akhir-akhir ini dan aku langsung menuju kantor, pekerjaanku menumpuk saat ini akibat libur 3 hariku bersama sooyoung di jepang.

Malam saat aku kembali, sooyoung sudah tidur dan hanya meninggalkan note dikulkas. “oppa, kau makanlah, sudah aku siapkan, aku harus tidur cepat karena besok kuliah pagi”.

“Oppa, iroena,..!” panggil sooyoung dan saat aku membuka mataku, aku melihat dia sudah rapi dengan pakaian akan pergi kekampus.

“Ayo bangunlah.. antarkan aku” Kata sooyoung manja.

“Ne? tidak biasanya kau manja seperti ini” Kataku dan langsung kekamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap kekantor dan mengantar sooyoung.

“Oppa, ayo suapkan aku” Pinta sooyoung saat kami makan pagi ini.

“Ne” kataku dengan senang hati.

“Kenapa dia begitu manja akhir-akhir ini, sangat aneh.. ah, sudahlah,. Gwenchana, siapa lagi yang memanjakannya. Tentu saja aku “suaminya”. Batinku.

Saat tiba dikampus.

“Oppa, kau bahkan jarang mencium keningku saat akan berangkat kekantor” Keluh sooyoung.

“Hahhaa, ne chagiii… mianhaeyo” Kataku sambil mencium keningnya.

“Kau kuliahlah, nanti aku jemput lagi” Kataku.

Sooyoung memang tambah manja belakangan ini dan childish. Bahkan juga egois. Saat di jepang dia selalu mengancamku. Dia selalu memperhatikan aku, aku kesal karena aku risih ditatap seperti itu. Aku sedikit shock dengan mulai pudarnya kemandirian sooyoung ini.

Seminggu sudah sooyoung semakin manja kepadaku, Saat malam aku dipaksa menemaninya menonton drama, padahal aku baru pulang lembur dan akan kekantor pagi pada esok harinya. aku agak risih karena saat dikantorpun dia sering menelfonku dan menyuruhku pulang hanya makan siang dengannya. Jarak kantor dan apartment ku terbilang jauh dan aku agak susah jika harus bolak balik seperti ini setiap hari. Tapi saat aku menjelaskan sooyoung hanya berargument “ ne, kau berubah oppa, tiga bulan pernikahan ini tapi kau sudah tidak mencintaiku”. Lalu aku harus menjawab apa? Aku bahkan semakin memcintainya, tapi aku juga ada pekerjaan. Jadi aku hanya bersabar dan berusaha semaksimal mungkin mengalah kepadanya.

Author pov

Saat ini siwon selalu mengantar sooyoung kekampus setiap harinya dan menjemputnya pada jam makan siang. Ini semua aturan sooyoung, karena dia mengatakan dia sering kelelahan saat menyetir. Siwon memakluminya dan pada dasarnya siwon memang menyayangi istrinya itu, dia hanya mengalah dan mengorbankan waktu makan siangnya untuk menjadi sopir pribadi sooyoung. Ini sudah terjadi 2 minggu. Sooyoung selalu makan siang dikantor siwon dan bersikeras untuk menunggui suaminya itu bekerja.

“Soo, kau pulang lah.. bukankah kau kelelahan? Lebih baik tidur dirumah” Kata siwon.

“Aniyo, aku ingin menemani oppa. Aku ingin melihat oppa bekerja” Kata sooyoung keras kepala.

“Baiklah” Pasrah siwon.

Saat ini pun sooyoung jarang memasak, dia sudah mulai cuek kepada siwon dan malas melakukan aktifitas apapun kecuali mengganggu siwon bekerja. Siwon awalnya maklum, tapi…

Sooyoung pov

Aish, aku sangat bosan dirumah. Lebih baik aku ketaman belakang apatment.

Saat ditaman, aku iri melihat orang pacaran. Aku putuskan menelfon Siwon Oppa dan jika aku meminta dia kesini, dia akan menolak dengan alasan pekerjaan. Sungguh workaholic. Asssa… aku akan mengerjainya saja mengatakan aku sakit dan pusing serta tidak bisa berjalan pulang. Dan aku putuskan menghubunginya.

Siwon pov

Saat aku bekerja, ponselku berbunyi dan itu panggilan dari sooyoung.

“Ne.. gwenchanayo?” Tanyaku panik.

“Kau dimana? Tunggu aku, aku jemput. Jangan kemana-mana” Perintahku.

Lalu aku membatalkan meeting dengan perusahaan jepang karena cemas dengan istriku. Langsung saja aku berlari menuju parkiran dan mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh.

Saat ditaman, dia hanya tersenyum dan langsung memelukku. Apa dia mengerjaiku? Bahkan dia bisa berlari memelukku.

“Ye.. oppa, kau tertipu” Katanya.

“Mwo? Kau mengerjaiku? Aish, kau keterlaluan” Kataku sambil menarik tangannya menuju mobil.

“Besok kau jangan seperti ini lagi ya, jantungku hampir copot” Kataku.

“Ne, mianhae oppa, aku hanya tiba-tiba ingin bertemu denganmu” Katanya.. bagaimana aku bisa marah.

Besoknya…

Sooyoung merengek meminta ikut kekantor denganku, dia bahkan rela bolos kuliah. Aku tidak mau membawanya karena aku akan lembur dan ada meeting dengan perusahaan jepang yang kemaren aku cancel tiba-tiba.

“Kau dirumah saja ne? Oppa akan lembur dan sibuk sekali” Kataku membujuknya.

“Ani.. aku ingin ikut, dan aku tidak akan merepotkanmu nantinya. Aku janji” Katanya.

“Ne.. baiklah” kataku pasrah.

Saat dikantor pun sooyoung hanya diam dan terus memperhatikan aku.

“Chagiyaa, aku risih.. jangan tatap seperti itu” Kataku.

“Hahhaa, baiklah oppa” Katanya.

Lalu sekretarisku masuk dan memberitahu rapat akan dimulai 15 menit lagi.

Saat sekretarisku keluar, sooyoung mulai memegang tanganku. “Oppa, ani.. kau tidak boleh rapat” Katanya.

“Ne?? Waeyo? Dia klien perusahaan” Kataku.

“Ani, dia yeoja.. kau tidak boleh rapat dengannya“ Katanya sambil terus memegang lenganku kuat.

“Aish.. kau ini, jangan bercanda. Kami hanya rapat biasa” Kataku.

“Oppa, aku katakan tidak boleh” Katanya dengan nada marah.

“Kau kenapa? Kataku mulai emosi. Kau kekanakan sekali” Teriakku.

Dia hanya diam.

Aku akan memaklumi jika kau manja denganku, tapi jika kau kekanakan dan berpikiran konyol seperti ini maka aku tidak akan peduli kau ijinkan atau tidak. Ini perusahaan, kita harus profesional. Kau pulanglah, aku tidak ingin kita bertengkar. Kataku lagi dan keluar menuju ruang rapat.

Malam ini aku jadi malas pulang cepat, entahlah.. aku agak malas bertemu sooyoung karena keegoisannya tadi siang. Tapi bagaimanapun aku juga harus pulang, aku tidak ingin semakin bertengkar dengannya.

“Kau pulang?” Tanya nya saat aku masih membuka sepatu ku.

“Ne, aku lapar. Kau memasak apa?” Tanyaku mulai mencair dan menghilangkan kemarahanku tadi siang.

“Tidak ada, aku hanya membeli makanan cepat saji, aku banyak tugas, dan tidak sempat memasak” Katanya.

“Oh gwenchana” Kataku dan langsung makan. Saat makan ponselku berbunyi dan itu dari sulli.

“Oh sulli ah, waeyo?” Tanyaku.

“Ani, aku hanya kangen oppa” Kata sulli.

Lalu sooyoung mendekat dan aku meng-loudspeaker kan panggilan ini.

“Oppa, aku ingin kita makan siang bersama besok. Berdua saja, seperti kau masih lajang dulu” Kata sulli lagi.

“Ne, baiklah..” dan saat aku akan mengatakan jam aku dan sulli bertemu, panggilan itu terputus. Sooyoung yang memutuskan panggilan itu. Aku marah..

“Apa-apaan kau? Itu sulli, kau jangan membuat sulli marah padaku” Kataku mulai geram.

“Ne, kau ingin makan berdua dengannya. Aku tidak suka suamiku keluar dengan wanita lain” Katanya.

“Apa kau gila?? Sulli adik kandungku, bukan wanita lain” Jelasku.

“Aku tidak suka” Teriaknya.

“Terserah kau, aku keluar. Aku tidur di rumah orangtuaku saja” Kataku.

“Ani, tidak boleh. kau ingin bertemu sulli kan?” Katanya.

“Kau mau apa? Jangan rusak hubunganku dengan adikku. Aku tidak suka itu. Dan aku lebih mengenal adikku. Kau hanya istriku, wanita yang kukenal beberapa bulan ini” Kataku dengan nada kasar.

Aku kesal dan sangat marah, dia begitu egois.. bahkan dengan sulli. Aku tidak bisa terima ini.

Dan akupun mulai berjalan keluar, aku rasa sooyoung berlari mengikutiku sambil menangis. Saat aku berbalik, dia hanya diam.

“Kau masuklah, aku ingin  menenangkan pikiranku. Aku muak melihatmu!!!” Kataku sambil berteriak.

Sooyoung kaget dan tetap diam. Pintu lift terbuka, saat aku akan masuk, dia menarik paksa tanganku. Aku benar-benar kesal dan aku hempaskan tangannya. Lalu saat aku melangkahkan kaki masuk lift. Bugh….. sooyoung terjatuh dan pingsan.

Aku kaget dan langsung menggendongnya kedalam apartment.

Omo, tubuhnya panas sekali. Aku langsung mengambil es batu dan mengompresnya. Dia menggumam tidak jelas. Aku sangat takut. Apa ini karena pertengkaran kami tadi?

Malam ini aku tidak tidur karena mengompres sooyoung. Saat dia sadar dan bangun, aku menyuruhnya memakan roti dan meminum obat, dia mencoba memakannya tapi tidak berhasil, dia muntah. Saat pagi, dia bangun dan kembali muntah, dia juga mengeluh kepalanya sakit.

Wuek.. wuek… sooyoung muntah dan aku memijit pundaknya

“Kau pergilah, aku tidak ingin bertemu denganmu” Katanya sambil menepis tanganku.

“Ani, kau masih sakit. Ayo kerumah sakit” Kataku.

“Ani, tidak perlu” Katanya dingin, sepertinya dia marah akibat pertengkaran kami semalam.

“Aniyo.. sooyoung ah, kau jangan seperti anak-anak” Kataku dengan nada lembut.

“Ayo kerumah sakit” Paksaku dan sooyoung kembali menepis tanganku.

“Ani, aku benci kau choi siwon..” teriaknya.

“Terserah kau, aku heran… kau terlalu banyak berubah akhir-akhir ini” Teriakku.

Sooyoung bangkit dan berjalan menuju lemari. Baiklah, kita berpisah saja kalau begitu. Katanya.

“Aku tidak peduli” Kataku dingin                        .

Dan saat dia sedang memasukkan bajunya ke koper, dia memegang kepala dan perutnya.

“Appo..” lirih sooyoung, tapi masih bisa kudengar.

Aku melihat kearahnya dan tiba-tiba dia pingsan lagi. Aku langsung menggendongnya dan membawanya kerumah sakit. Aku merasa aneh dengan demamnya ini. Kenapa dia sampai pingsan dua kali.?

Saat tiba dirumah sakit, dokter langsung menangangi sooyoung, aku hanya menunggunya diluar.

Setelah beberapa menit, dokter itupun keluar. “Apakah kau suaminya?” Tanya dokter itu kepadaku.

“Ne, saya suaminya” Kataku.

“Ikutlah keruanganku. Kita bicara didalam saja tuan choi” Lanjutnya.

Saat diruangannya.

“Baiklah tuan choi. Anda sepertinya sangat beruntung” katanya sambil tersenyum. “Selamat. Istri anda hamil.. 5minggu”.

“Mwo?” Aku shock.. kaget dan bahagia sekali. Aku akan segera menjadi appa. Benar-benar tidak sabar anakku lahir.

“Tapi, sepertinya nyonya choi sedang stress berat, tekanan darahnya terlalu rendah. Dan kondisi fisiknya sangat lemah. Aku takut jika tidak diantisipasi dari sekarang, maka akan berpengaruh kepada janinnya”.

Aku langsung terdiam, jangan-jangan karena pertengkaran kami. Aku merasa bersalah pada sooyoung, aku bicara kasar dan membentaknya.. aku kesal karena sikap manjanya dan bahkan aku tidak mengerti rasa cemburunya. padahal dia sedang mengandung anakku.

“Tuan, kehamilan pertama ini akan sangat merepotkan. Kau harus memaklumi itu, terkadang istrimu akan manja bahkan sangat manja dan cemburuan. Atau sangat cuek dan pemarah. Sebagai suami, kau harus bersabar dan cobalah mengalah. Jangan sampai ibu hamil stress. Itu bukan hanya membahayakan satu nyawa, tapi dua “anak dan ibu”. Kau ikuti saja permintaan nya, terkadang memang aneh, tapi itulah yang namanya ngidam. Aku akan memberikan vitamin untuk mengembalikan kondisi fisiknya, tapi yang terpenting kau sebagai suami harus menjaga perasaannya agar dia tidak stress” Kata dokter ini panjang lebar.

“Ne, gomawo uisa..” kataku.

“Dia masih pingsan, sebentar lagi akan sadar. Mungkin karena tekanan darahnya rendah dia jadi pusing dan pingsan karena tidak mampu menahan rasa sakit dikepala dan perutnya” Lanjutnya saat aku akan keluar dari ruangan ini.

Saat melihat sooyoung terbaring dengan tangan diinfus, nyaliku menciut. Aku merasa sangat bersalah kepadanya. Dia terbaring seperti ini karena aku yang tidak bisa menjaga perasaannya. Air mataku menumpuk dipelipis mataku saat melihat wajah pucat sooyoung. Aku suami yang bodoh, sungguh tidak pantas untuknya. Aku bahkan tidak tahu istriku hamil. Aku membentaknya dan bahkan hampir meninggalkannya saat dia cemburu dengan sulli.

“Sooyoung ah, kau bangunlah… mianhae..” kataku sambil mengelus rambutnya dengan lembut dan penuh sayang.

Aku menggenggam tangannya. Sooyoung ah, aku benar-benar minta maaf, jangan marah lagi. Kau sadarlah. Kataku lagi. Lalu, aku mengelus perutnya. Sooyoung ah, gomawo.. kau hamil anakku. Aku bahagia. Jeongmal gomawoyo.. kau bertahanlah anakku. Appa sangat menantikan kehadiranmu. Kataku pada perut sooyoung, tempat anakku akan hidup 9 bulan.

Aku merasakan tangan sooyoung yang aku genggam bergerak lemah. “Soo, kau sudah sadar?” Tanyaku.

Dia hanya diam dan masih berusaha membuka matanya. Dia melihat sekitar ruangan ini.

“Chagiyaa.. kau sudah bangun? Ini dirumah sakit” Kataku menjelaskan saat dia terlihat bingung dengan ruangan ini, dan dia masih diam.

“Kau haus?” Tanyaku sambil menyerahkan air dan berniat membantunya minum.

“Ani. Tidak perlu” Katanya dingin.

“Apa yang sakit?” Tanyaku lagi saat dia memegang kepala dan perutnya.

“Kau diam saja siwon shii” Katanya dingin tanpa melihatku.

Aku terdiam, dia bicara formal lagi kepadaku. “Apa dia benar-benar marah?” Batinku.

“Kenapa bicara seperti itu kepadaku? Kau masih marah? Aku minta maaf, aku mohon maafkan aku” Pintaku.

“Aku benci kau. Aku benar-benar membencimu choi siwon!! Kau keluarlah, aku ingin sendiri” Teriaknya.

“Sooyoung ah, ani.. aku tidak akan keluar, aku ingin menemanimu”.

Dia terlihat marah, dan menatapku tajam. “Baiklah, kalau kau tidak keluar aku yang akan keluar” Ancamnya sambil mencabut jarum infus ditangan nya.

“Ani.. chagiya, jangan.. kau butuh infus untuk menjaga kondisimu” Kataku shock melihat tangannya mulai berdarah akibat cabutan infus itu.

Saat dia berdiri dengan gegabah, aku langsung memeluknya. “Mianhae, aku yang bersalah. Mianhae.. aku mohon.. jangan seperti ini. Jangan bergerak terlalu aktif, kasihan anak kita” Kataku sambil memeluknya erat. Dia diam dan mencoba melepas pelukanku.

“Mwo? Anak??” Tanyanya dengan wajah shock.

“Ne, kau hamil anakku. 5 minggu. Gomawo..” kataku sambil tersenyum lebar. Sooyoung masih menganga. Lalu aku menuntunya ketempat tidur.

“Kau tidurlah, pasangkan dulu infusnya. Aku akan memanggil perawat” Kataku lembut. Setelah infus itu terpasang, sooyoung sudah mulai tenang dan aku duduk disampingnya.

“Gomawo, kau hamil. Kataku lagi sambil mengelus kepalanya. Chukae, kau akan  menjadi seorang ibu” Kataku sambil tersenyum.

Dia menepis tanganku. “Jangan sentuh aku siwon shii” Katanya dingin.

“Wae? Kau marah padaku? Mianhae, jangan marah lagi” Kataku mencoba membujuknya.

“Bukankah kau akan meninggalkanku? Silahkan saja. Kita memang tidak cocok lagi. Kau bahkan muak melihatku. Aku akan menghubungi minho untuk menemaniku. Kau pulanglah, bukankah kau ingin menenangkan pikiran dirumah orang tuamu? Gwenchana. Kau pergilah” Katanya.

“Ani.. aku minta maaf, aku tidak bisa.. aku tidak bisa berpisah denganmu” Kataku.

“Maafkan aku saat itu cemburu tidak jelas kepada sulli. Mianhae, aku memang egois dan mungkin ini yang membuat kita tidak cocok” Kata sooyoung lagi.

“Aku mengerti, tentu saja kau cemburu, itu bukan maumu, tapi kemauan anak kita. Aku minta maaf membentakmu saat itu” Kataku lagi sambil membelai tangannya.

“Kau pergilah.. aku ingin sendiri” kata sooyoung sambil menangis.

“Ani..andwe., jangan menangis lagi. Aku yang bersalah” Kataku saat melihatnya mulai menangis lebih keras. Ini pertama kalinya sooyoung menangis dan terlihat lemah dihadapanku.

“Mianhae.. jeongmal… “ lirihku ikut menangis sambil memeluk istriku tersayang ini.

Dia hanya diam dan tidak membalas pelukanku. Aku mengerti, sangat mengerti perasaannya. Bagaimana mungkin dia tidak marah padaku. Aku bahkan membentak dan menghempaskan tangannya kasar saat aku akan pergi kerumah orangtuaku karena dia cemburu dengan sulli. Aku bahkan mengatakan jika dia hanya wanita yang baru kukenal karena emosiku saat itu. Othokhe?? Aku benar-benar takut kehilangan sooyoung.

“Aku ingin tidur” Kata sooyoung tiba-tiba dan akupun melepas pelukanku.

“Ne, jaljayo..” kataku sambil mencium keningnya. Dia hanya diam dan menutup matanya.

Besok paginya.

Sooyoung kembali muntah-muntah tanpa henti, aku panik dan memanggil dokter. Dokter tersebut mengatakan jika ini memang gejala hamil muda, jadi harus lebih bersabar. Aku sungguh tidak tega dengan sooyoung yang semakin pucat.

“Sooyoung ah..” kataku pelan.

“Aku butuh ummaku dan minho” Katanya.

“Ne, aku akan menelfon omonim dan minho” Kataku cepat karena takut melihat sooyoung yang muntah terus.

Saat omonim dan minho datang, sooyoung lebih ceria. Minho selalu menggodanya. Aku bagaikan orang asing didepan pintu.

“Siwon ah, omonim ingin bicara” Kata umma sooyoung.

“Kalian kenapa?” Tanya mertuaku ini. Lalu aku menceritakan semuanya dengan jujur.

“Aigoo.. kalian ini, hahhaaa.. pasangan muda memang begitu menghadapi kehamilan pertama. Katanya pengertian. Kau bujuklah dia, aku tidak akan ikut campur. Kalian sudah dewasa dan akan menjadi orangtua” Lanjut mertuaku ini bijak.

“Ne. Gomawo omonim”.

“Sooyoung ah, umma pulang dulu. Kau harus menjaga cucuku. Ne? Makanlah teratur dan jangan stress. Jika kau bosan dirumah nanti. Hubungi umma. Oke?” Pamit omonim sambil menceramahi sooyoung.

“Hyung, aku titip noona dan keponakanku. Noona anyeong. Saranghae” Kata minho dan Sooyoung hanya mengangguk lemah.

Siang ini sooyoung bersikeras minta pulang, aku bisa berbuat apa. Aku takut jika tidak mengikuti  permintaannya. Aku takut dia stress dan muntah lagi. Saat dimobil kami saling diam. Aku takut banyak bicara. Entahlah.. aku takut jika salah bicara dan membuat sooyoung sedih. Aku tidak mau membuat istri dan anakku yang dikandungannya sedih.

Kami sampai di apartment, aku menuntun sooyoung masuk. Dia terlihat sangat tidak bersemangat. Tidak sooyoung yang ceria lagi.

“Kau tidurlah, aku akan membeli makanan untuk kita” Kataku sebelum keluar dan aku menyium keningnya.

“Sooyoung ah, ayo makan” Kataku sambil membawa bubur dan air putih untuk sooyoung.

“Ani, aku tidak lapar” Jawabnya cuek.

“Kau makanlah.. bagaimana anak kita? Dia butuh asupan gizi” Terangku sambil menyuapi sooyoung pelan karena takut dia muntah lagi.

Malam ini aku tidur di samping sooyoung, tapi aku hanya memandang wajah dan perutnya bergantian. Aku terkagum dengan istriku ini. Saat dia tertidur, aku hanya mengelus kepalanya. Hingga akhirnya akupun ikut tertidur.

“Sooyoung ah, aku kekantor.. kau mau ikut?” Tanyaku. Mengingat sooyoung selalu memintaku membawanya jika aku bekerja.

“Ani. Aku tidak mau merepotkanmu. Aku juga tidak mau kau muak melihatku lagi” Katanya yang membuat aku sedih mengingat sikapku padanya.

“Bagaimana aku direpotkan oleh istriku? Tidak.. aku sangat senang kau manja padaku. Jangan dingin dan cuek seperti ini lagi padaku. Aku tidak sanggup melihatmu mendiamkanku” Kataku.

“Ani, kau pergilah!”

“Jinjhayo? Kau tidak apa sendiri? Aku hanya akan mengambil laporan karyawanku. Aku akan bekerja dirumah untuk satu bulan ini. Aku mau menemanimu” Jelasku.

Sooyoung hanya diam dan aku pun mendekat dan mencium pipinya. “Anyeong.. appa pergi sebentar” Kataku sambil mengelus perut sooyoung.

Sooyoung pov

Aku sebenarnya juga tidak tahan mendiamkan siwon, entahlah.. hatiku selalu berkata jika aku sangat ingin dimanja olehnya. Apa ini permintaan anakku? Siwon bekerja dirumah saat ini. Sudah satu minggu dia bekerja dirumah. Aku bahkan tidak dibiarkan siwon untuk melakukan pekerjaan apapun. Aku masih sering muntah dan mual. Anehnya, rasa mualku akan hilang saat aku mencium aroma tubuh siwon.

“Sooyoung ah, kau tidak apa? Ayo minum dulu” Kata siwon oppa sambil menyerahkan segelas air padaku. Tiba-tiba aku muntah lagi. Dan entah keinginan dari mana, aku langsung memeluknya dan mencium aroma tubuhnya. Wangi… sangat lembut wangi tubuh namja ini. Mualku seketika hilang. Lama kami pada posisi seperti ini. Dia hanya mengelus kepalaku saat aku memeluknya.

Aku melepas pelukan kami, aku malu. Bukankah aku masih marah padanya.

“Gwenchana?” Tanya siwon cemas.

“Ne, mianhae aku memelukmu” Kataku malu.

“Aturan dari mana kau dilarang memeluk suamimu?” Tanyanya menggodaku.

“Ani, aku hanya..” kataku terputus.

“Kenapa?” Tanya siwon.

“Mualku hilang saat memelukmu tadi” Kataku jujur.

“Jinjha? Kau harus lebih sering memelukku kalau begitu” Ujarnya.

“Mianhae aku mendiamkanmu karena masalah pertengkaran kita waktu itu” Kataku menyesal. Aku memang butuh suamiku. Entahlah, naluri mengatakan kalau aku tidak bisa tanpa siwon.

“Aku yang salah.. aku yang seharusnya minta maaf. Sudahlah, kau jangan stress lagi. Aku tidak mau kau kenapa-napa” Kata siwon sambil mencium bibirku.

“Yongie.. kau tidak marah lagi kan padaku?” Tanyanya.

“Mmm…” jawabku sekenanya.

“Gomawo..” katanya.

“Buat apa?” Tanyaku.

“Karna kau hamil anakku, ani.. anak kita” Jawabnya.

“Oh ne..” kataku.

“Besok kita ketaman bermain, bagaimana?” Tanya siwon.

“Ne.. aku mau” Kataku.

“Aku harap kita tidak bertengkar lagi. Aku tidak mau kehilanganmu” Kata Siwon sambil memelukku.

~~tbc~~~~ ^_^

19 thoughts on “We Are at The Same Social Level Part 4

  1. Menurut aku part ini sama yg k3 sentuhan humornya udah hilang?
    Jujur aja thor aku suka part 1&2 lebih ceria
    next partnya kalo bisa humornya dimasukin lagi
    jangan marah ya thor aku bilang kayak gitu cuma saran over all aku suka kok

  2. wahh udah update lagi >_<
    Soo bener2 jadi maja bmget ya setelah hamil…..Siwon oppa yang jadi repot….
    Tapi untung aja Siwon oppa ngerti dan mahu mengikut segala kemahuan Soo setelah tahu Soo hamil…..untung ya Soo diperlakuin kayak gitu….
    Gomawo ya udah update….Fighting untuk next partnya

  3. annyeong thor ,, mian aku baru koment di part ini ,,
    aku juga mau ngasih tau atau lebih tepatnnya sih mau mengantisipasi,,
    mian yah jika selama ini aku hanya selalu ngelike ff author ,, tpi beneran deh bukannya FF kamu gak bagus sehingga aku cuma ngelike doang dan gak memberi koment, hanyakan ada suatu alasan sehingga aku gak bisa selalu koment dan hanya bisa ngelike FF author doang,
    kenapa aku coment kayak gini , soalnya banak banget author yang hiatus alias berhenti menulis FF karena banyak siders di FF mereka ,, nah ini ajah yang aku mau bilang sama author ,,

    dan untuk author , figthing untuk FF mu,
    FF mhu selalu bagus di mata aku🙂

  4. Aku suka ff.a tp knpa ada dua kali ini kyak.a dua kali ngecopy. Next part dtnggu.
    Owh yah thor bkin ff yg suasana anak sekolah dOng. Tp pngen shbt.a soosica couple.a soowon, minhosulli
    sibling.a soominho, siwonsulli.
    Antagonis : tiffany or stella ,etc
    Hehehe maaf kalo ngaco.

Leave a Reply (Comment yah)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s